Senin, 03 Desember 2012

NEGARA TERINDAH DI DUNIA? YA, BHUTAN! #04.HERMAWAN KARTAJAYA


Mungkin Anda tidak percaya pernyataan di atas? Dulu saya juga begitu. Saya sudah tiga kali ke New Zealand ya memang cantik sekali. Karena itu, film “Lord of the Rings” dibuat di situ.
Saya juga beberapa kali ke Swiss,bahkan pernah mengajar di St Gallen Business School, Zurich. Juga pernah diajak keliling Swiss oleh Ibu Dubes Lucia dari KBRI di Bern waktu itu. Pemandangan bagus sekali. Jadi, soal nature gak ada tandingannya di seluruh dunia.
Selain itu, karena dua negara itu termasuk negara yang sudah tinggi GDP per Capitanya, orangnya sudah sangat ‘civilised’. Semua turis diperlakukan dengan sopan dan terhormat, walaupun semuanya mahal.
Di Tiongkok, juga banyak nature yang sangat indah. Tapi, karena ekonomi belum masuk negara kaya,ya rakyatnya masih ada saja yang meludah sebarangan. Juga ada saja orang yang gak mau antre tapi main serobot dan tidak peduli turis.
Amerika banyak punya tempat yang man-made, seperti Las Vegas dan Disney baik di California maupun Florida. Sedang Eropa secara umum memang penuh kebudayaan yang mempesona, tapi tetap saja orang bilang Swiss yang paling cantik. Anggapan itu langsung hilang. Begitu saya mendarat di lapangan terbang Timpu, ibukota Bhutan.
Waktu itu, saya memang sengaja membuat suatu spiritual-trip ke tempat-tempat yang lekat dengan Budhisme. Karena itu, saya ke Tibet duluan melihat istana Dalai Lhama di Lhasa, walaupun sudah ditinggal mengungsi Ke India.
Habis itu, saya ke Nepal, tempat kelahiran Sidharta Gautama dan tempat terkenal untuk melakukan pendakian pegunungan Himalaya. Baru setelah itu, ke Bhutan yang resmi adalah Negara Budhis. Perjalanan ini khusus supaya saya lebih mengerti dikit tentang Budhisme dalam rangka mendukung Konsep Marketing 3.0 yang merupakan Marketing with Human Spirit.
Saya juga ingin tahu kenapa buku “Marketing 3.0 : From Product to Customer to Human Spirit” juga bisa best seller di Korea, Jepang, dan Tiongkok yang punya banyak umat Buddha.
Yang saya temukan, sangat unik. Di Tibet, saya mendadak jadi kurang suka pada pemerintah Tiongkok yang begitu menjaga ketat tempat-tempat suci orang Tibet. Di mana-mana, kelihatan tentara People’s Liberation Army (PLA) berbaris dan berjaga-jaga di berbagai Pos Jaga.
Baik di pasar, tempat keramaian. Bahkan, di Istana Dalai Lhama sekalipun. Alasannya, di situ, sering terjadi demonstrasi orang Tibet yang merasa “dikerjain” oleh suku bangsa Han yang pendatang. Mungkin mirip seperti Aceh zaman dulu atau Papua sampai sekarang.
Pemandu saya yang orang Tibet asli banyak buka rahasia. Tentang bagaimana dulu dia jalan berhari-hari menyeberang ke India untuk sekadar belajar agama Buddha di tempat pengasingan Dalai Lama. Dan setelah dua setengah tahun, ia balik lagi ke Tibet sambil menunggu “hari kemerdekaan” yang tidak kunjung datang. Seperti menunggu Godot!
Sedang di Nepal, saya menemukan tempat-tempat yang masih kotor, malah secara keseluruhan terkesan ‘kumuh’. Di situ, mereka selalu membanggakan bahwa umat Buddha bisa berdampingan damai dengan Buddha.
Banyak Kuil Hindu dan Buddha yang berdekatan.Mirip dengan Candi Borobudur yang Budhis dan Prambanan yang Hindu. Bagi orang Nepal, Sidharta Gautama yang kelak jadi Buddha adalah reinkarnasi dari salah satu Dewa Hindu.
Orang Nepal mirip orang India, tapi ekonominya tergantung Tiongkok. Bahkan,  kerajaan Nepal sudah ‘tumbang’ oleh Partai Komunis yang didukung Partai Komunis Tiongkok. Nepal baru tampak indah ketika saya ikut tur pesawat yang keliling puncak Himalaya. Mirip Swiss dengan puncak-puncak dengan es  abadinya. Nah, begitu mendarat di Timpu, saya segera saja melihat suatu negara yang hijau, tenteram, dan damai.
Di pegunungan hijau yang ‘mengepung’ kota-kota di Bhutan,  muncul berbagai rumah Bhutan tradisional warna warni.Mirip di Bali, rumah-rumah itu tidak boleh lebih tinggi dari pohon di sekitarnya. Yang lebih hebat lagi, 90 persen dari penduduknya masih mengenakan pakaian tradisional Bhutan. Hanya 10 persen yang sudah memakai pakaian ala Barat. Jadi, secara umum, Bhutan ini masih suatu negara yang tradisional.
Rajanya sudah ‘turun tahta’ dan meminta anaknya menggantikan tapi sebagai Raja Seremonial seperti di Inggris, tapi punya wibawa sangat kuat mirip di Thailand. Partai Politik pun dibentuk supaya rakyat bisa belajar berdemokrasi.
Internet yang dulu dilarang mulai diperbolehkan dalam kapasitas terbatas. Bhutan ingin membuka diri ke dunia step by step. Yang lebih menarik lagi, raja tuanya memperkenalkan Gross National Happiness (GNH) sebagai pengganti GDP. Konsep GNH ini memang berasal dari Buddhisme  tapi bersifat universal karena melibatkan konservasi alam dan kejujuran dari pejabat pemerintah dan rasa damai dan tertib di kalangan masyarakat.
Pada saat negara-negara dengan GDP per kapita tinggi makin menderita krisis, para ahli ekonomi dari sana malah pergi ke Bhutan membicarakan GNH.  Tiap tahun, Bhutan bahkan menyelenggarakan Konferensi GNH dengan dihadiri para Profesor Ekonomi dari Barat.
Berkebalikan dengan Nepal, orang Bhutan berwajah Tionghoa, tapi ekonominya banyak tergantung pada India. Unik kan? Untuk mendapatkan grass-root Insight, saya pun rajin mengunjungi kuil dan festival budaya yang lagi berlangsung.
Di situlah, saya menemukan bahwa bagi mereka ada tiga hal yang mendasar. Love,Karma, dan  Next Life.
Bagaimana manusia harus berbuat baik dengan cinta pada orang lain supaya dapat Karma baik.  Dengan demikian, di kehidupan berikutnya, dia akan ter-upgrade terus sampai akhirnya masuk ke Nirvana dan hidup kekal dan bahagia di situ.
Pasti tidak sama dengan aliran Samawi yang ada di Judaise, Kristen, dan Islam di mana setiap orang kalau berbuat baik akan masuk surga. Yang berbuat jelek dan tidak dapat pengampunan akan masuk neraka. Namun ada persamaan yang hakiki pada aspek horisontalnya, yakni cinta pada manusia lain.
Tarian Sufi diperkenalkan pertama kali oleh Jalaluddin Rumi untuk menunjukkan cinta pada Sang Khalik. Rumi adalah tokoh Islam Sufi yang sangat terkenal.
Teman saya Profesor Komaruddin Hidayat yang Rektor UIN Sharif Hidayatullah mengatakan pada saya bahwa di Islam, Sufi merupakan tingkatan yang tertinggi. “Kalau sudah sampai di situ, yang ada cuma PEACE and LOVE,” kata beliau pada saya. Padahal ringkasan dari Injil,  hanya Faith, Hope , Love.
Benang merahnya ternyata ada di LOVE yang harus di wujudkan secara vertikal pada Sang Pencipta dan umat manusia bagi agama Samawi. Sedang buat orang Buddha, ada kewajiban mencintai orang lain secara horisontal supaya bisa punya kehidupan spiritual vertikal yang makin baik.
Bante Utamo, teman saya yang sudah bergelar Mahatera pernah mengatakan pada saya buat Buddhism, market share tidak penting. Yang diutamakan adalah ‘way of life’ kita sebagai manusia untuk selalu berbuat kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Marketing adalah urusan ‘horisontal’ pada orang lain. Marketing 3.0 adalah ‘horizontal marketing’—sebuah  konsep pemasaran yang punya dasar-dasar baik pada orang lain. Seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. Ternyata memang benar-benar Rahmatan Lil Alamin.  Dari Islam untuk seluruh Umat di Semesta Alam.
Bhutan jadi negara paling indah dunia, setelah saya menemukan semuanya itu di sana. New Zealand dan Swiss memang sangat indah, tapi sudah semakin banyak orang di sana termasuk negara Barat lain tidak ke Gereja secara rutin lagi.
Jadi, Spirit 3.0 nya tidak di-backup oleh suatu ‘faith’ atau ‘belief’ tertentu. Di Bhutan, Buddhisme yang resminya adalah agama negara, tapi lebih merupakan ‘way of life’ makin dijadikan sistem GNH. Saya jadi ketemu jawabannya kenapa buku Marketing 3.0 juga best seller di negara-negara Asia Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar